Membaca Ramalan Bintang

0 Comments

Membaca Ramalan Bintang

Oleh : Drs. H. Muhdil Anam

قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالاَرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml: 65).

Seluruh nabi dan rasul menyeru ummatnya untuk memurnikan tauhid kepada Allah swt. Tidak ada satupun dari mereka yang diperkenankan untuk membiarkan penyekutuan atau kemusyrikan. Pengesaan Allah swt. adalah fondasi ajaran yang tidak ada tawar menawar. Penyimpangan dari fondasi itu berdampak fatal dalam menjalankan agama, berupa tertolaknya seluruh perbuatan, sebaik dan sebanyak apapun kebajikan yang telah dilaksanakan. Allah swt. mengingatkan kekasihNya, Nabi Muhammad saw. tentang hal itu, seperti yang difirmankan dalam surat al-Zumar /39: 65

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: “jika kamu menyekutukan (Allah) maka niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang merugi.

Menyekutukan Allah swt. tidak selalu dengan menyembah selain Allah swt, tapi juga bisa dalam bentuk lain seperti mengakui selain Allah swt; manusia, bintang, batu dan yang lainnya, memiliki sifat, kekuatan, atau pengetahuan yang dimiliki Allah swt.

Pengetahuan tentang yang ghaib itu hanya milik Allah swt. semata. Selain Dia, siapapun juga, baik jin atau manusia, tidak ada yang mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Jika Nabi Muhammad saw. memberitahukan tentang yang ghaib, seperti kondisi surga dan neraka atau prediksi masa depan, semua itu karena wahyu yang diberitakan kepadanya. Itulah yang diingatkan Allah swt. dalam surat Al-Jinn (72) : 26-27:

عَالِمُ الغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً * إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَداً

Dia yang mengetahui yang gaib, tetapi dia tidak memberitahukan kepada siapapun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka ia sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat di depan dan di belakangnya.

Nabi Muhammad saw., manusia pilihan Allah, pun tidak mengetahu yang gaib kecuali yang diperkenankan kepadanya melalui wahyu yang dibawa malaikat Jibril.

قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (Muhammad), “aku tidak kuasa untuk mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat untuk diriku kecuali yang dikehendaki Allah. Andaikan aku menegtahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan yang banyak dan tidak ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman (Al-A’raf (7): 188)

Mempercayai orang yang mengaku memiliki pengethuan tentang yang gaib bertentangan dengan ajaran Islam. Hal itu sama dengan menyekutukan Allah swt, karena memposisikan mahluk Allah memiliki sifat  berupa pengetahuan yang itu hanya milik Allah, yaitu  tentang yang gaib.

Sikap pengakuan terhadap pemahaman dan pengetahuan seseorang tentang  yang gaib itu dengan mendatangi, menanyakan dan membenarkan apa yang dinyatakannya tentang yang gaib itu. Rasulullah saw. mengancam orang yang mendatanginya dengan tertolak shalatnya selama empat puluh hari sebagai mana yang disabdakannya:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim)

Sedangkan jika meyakini kebenaran pernyataannya maka Rasulullah saw menyatakan orang itu telah mengingkari wahyu Allah swt:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkan apa yang dinyatakannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” (HR. Ahmad no. 9532, Hadits hasan)

Membaca Ramalan Bintang

 Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah) di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz menyatakan bahwa ilmu bintang (astrologi), horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah dan Islam telah menghapus keyakinan tersebut karena hal itu merupakan bentuk kemusyrikan.

Ramalan bintang disandarkan kepada keyakinan terhadap adanya pengaruh posisi bintang pada waktu tertentu terhadap kehidupan. Pengakuan adanya pengaruh benda langit (bintang) terhadap kehidupan manusia berarti mengakui adanya mahluk Allah yang punya peran dalam menentukan arah  kehidupan dengan memberikan manfaat atau mudharat (bahaya), padahal bahaya dan manfaat itu hanya datang dari selain Allah swt., dan selain Allah tidak memiliki kemampuan dan kekuasaan untuk memberikan manfaat dan menolak bahaya sedikitpun. Rasulullah saw. mengajarkan pemahaman itu dan mengingatnya terus menerus setiap selesai shalat dengan ungkapan:

اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

 Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk menjaga kemurnian tauhid, para ulama menyamakan membaca ramalan bintang tanpa membenarkan isinya dengan mendatangi dukun dan tukang ramal yang diancam dengan tertolak shalatnya selkama empat puluh hari. Sedangkan jika meyakini kebenaran pernyataan ramalan itu sama dengan telah mengingkari Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

 Wa-l-Lâhu A’lamu bi-l-shawâb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *